Sunday, January 10, 2016

A Trip to Temanggung


Mumpung baterai handphone masih ada, ingatan masih fresh, dan cerita terlalu unyu untuk disimpan sendiri.


Di stasiun,
waktu mau masuk pemeriksaan tiket ditanyain petugas.
"Tiket dan KTP-nya dek, eh udah punya KTP belum dek?"
Di kereta,
duduk seberangan sama 2 bule yang membaca novel dan foto-foto sawah sepanjang jalan. Sampai suatu waktu, mereka nggosipin saya pakai bahasa Belanda.
Bule A: "Itu anak di sebelah Japanese atau Inlander ya?"
Bule B: "Japanese, masa Inlander masih kecil berani naik kereta sendirian dan membaca buku Inggris?"
Saya: "Excuse me. I am Indonesian, and sorry, I understand Netherland"
Setelah itu kami jadi teman ngobrol sampai Jogja.

Di taxi,
ngobrol sama si supir.
"Eman sekarang ke Temanggung harus travel. Semoga ini Stasiun Temanggung dan stasiun kecil-kecil dihidupkan lagi, ada kok dek dulu, deket alun-alun situ. Sekarang banyak stasiun ditutup dek, lahan rel digantikan dengan lahan perumahan"

Di agen travel,
nunggu bareng tante-tante yang selalu akhirnya suka kepo dan ngobrol.
Tante A: "Saya mau pulang Salatiga, habis berlibur di Jogja"
Tante B: "Saya asli Jakarta, tapi lagi nganterin anak saya nih balik kuliah ke Salatiga"
Tante C: "Bukannya di Jakarta kampus lebih banyak dan lebih keren dan lebih menjanjikan?"
Tante B: "Anak-anak pada ngga betah tinggal di Jakarta, panas, mahal, sesak, ngga manusiawi, 1x naik tol sama dengan 1x makan
di Salatiga"
Saya diam dan mendengarkan saja.
Tante B: "Kamu nik, kenapa juga nggak nge-design di Jakarta? Daripada cuma ngajar di Surabaya dan nge-design pasar di
Temanggung?"
Saya: "Jawaban saya kurang lebih sama tante kok. Selain karena saya lebih suka main bambu daripada multipleks, saya juga lebih rela buang uang untuk makan daripada untuk tol"

#laviniaelysia #spedagi #temanggung
TMG.10.01.2016

No comments:

Post a Comment